Cinta & Cinta

Kasih-Sayang, Cinta-Kasih, Love-Love yang Tergugah

  • Arsip

CINTA ku, IBU ku

Posted by a2karim09 pada Juni 5, 2009

Mungkin judul di atas agak mengkultuskan ibu dibanding bapak. Mungkin diantara anda ada yang berpikir, sebaiknya lebih cenderung mengutamakan bapak daripada ibu. Atau keduanya agar tidak berpihak.

Bila kita menoleh ke belakang, memang Bapa Adam as lebih dulu diciptakan kemudian Bunda Siti Hawa. Oleh karenanya garis keturunan darah mengikuti garis keturunan bapak dan bukan ibu. Dari sisi medis, dalam dunia-rahim, si sperma yang aktif dan lincah untuk mencari pasangannya dibanding ovum yang hanya menunggu. Dalam percintaan, si cowo (lelaki) lebih aktif mencari belahan hatinya dibanding si cewe (wanita) yang lebih banyak menunggu dengan soleknya.
Dalam suatu rumah-tangga dialah (bapak) yang menjadi kepala, pemimpin keluarga. Dialah nahoda biduk kehidupan rumah-tangga. Dialah menjadi pelindung utama keluarga. Dialah memiliki “power” lebih dibanding ibu. Kemampuan pikirpun bapak jauh lebih baik daripada ibu yang lebih menekankan pada perasaannya. Wajar bila kita mengutamakan bapak daripada ibu.

Anda yang lain mungkin mengatakan “tidak”.
Di dunia rahimlah si sperma menemukan pasangannya. Dalam dunia-rahimlah sperma menyatu dengan pasangannya. Tiada lagi sperma, tiada lagi ovum. Dalam dunia-rahimlah dia dibesarkan dengan belaian kasih. Lelaki mana yang bisa merasakan susahnya memangku si cabang-bayi dalam rahimnya, selama 9 bulan+10 hari. Paling-paling si bapak hanya bisa meng-elus2 kulit luar dunia-rahim dengan ucapan dan pelukan sayang, karena telah mau menerima turunannya. Tiada terpikir – tanpa ovum – sperma tidak berarti apa2. Sempatkah si bapak berpikir walau sejenak, bagaimana susah, derita dan kekhawatiran si ibu hingga detik2 terakhir akan melahirkan?. Ia sembunyikan dalam hatinya untuk membahagiakan si bapak, tempat ia berteduh. Kebahagiaan tiba, kekhawatiran belahan nyawa sirna besamaan lahirnya si cabang-bayi. Diberinya minum dengan air susunya demi kelangsungan hidup buah hatinya. Dia didik anaknya, ia pendidik pertama. Dia sayangi si buah hati dengan rasanya. Bila perlu dia deraikan air-mata demi kasih dan sayangnya.

Memang sulit mana yang kita utamakan diantara keduanya. Sulit memilah diantara keduanya. Tidak ada kemungkinan sekecil apapun, si lelaki (bapak) untuk melahirkan karena tiada dunia-rahim di perutnya. Juga bagi si wanita (ibu), tak mungkin sekecil apapun ‘tuk melahirkan karena tak memiliki dunia-rahman diperutnya. Tak mungkin bertepuk sebelah tangan. (maaf disini tidak termasuk hamba-hamba Tuhan Yang Dimulyakan).
Bagaimana kalau kita pertemukan kedua belah tangan dengan tepukan (semoga anda-anda setuju) sehingga mengeluarkan suara yang menata 5 huruf terbaca CINTA. Dari kata cinta tertata Cinta Illahi Rabbi.

RAHMAN & RAHIM

Kalau kita mau merenung dengan hati yang dalam, kita akan cendrung kesalah-satunya, walau sedikit. Kecendrungan itu akan membesar bila kita memahami kedudukan seorang bapak dan kedudukan seorang ibu dalam kehidupan, tanpa memihak diantara keduanya. Mereka tetap satu, tepi kecenderungan pasti ada.
Kering air-mata mu tak ‘kan kau temukan surga di tubuh bapak tersayang. Satu hurufpun terlontar dari mulut kepada ibu mu, neraka langsung menganga menunggu kehadiranmu. Mungkin diantara anda-anda ada yang menampik. Silahkan, itu hak anda.

Kata teman ku : di jaman dulu, jaman jahiliah, “sebutan ibu tiga kali dibanding sebutan bapa hanya sekali”. ”itukan jaman dulu”, kata ku. “kini jaman sudah berubah, bahkan jauh sekali perubahannya”, kata ku lagi. “jadi tidak sesuai lagi perbandingan tsb”. “tapi ‘kan kata orang pintar begitu”, kata teman ‘ku. “Coba kita lihat bersama kejadian demi kejadian kehidupan di masyarakat dunia. Apakah jaman yang serba modern ini bahkan supersunik, telah hilangkah kejahilan atau masih sama seperti jaman dulu?”. Teman ku diam. “jaman sekarang perbandingan sebutan ibu lima kali, sedangkan sebutan bapa tetap satu kali”, kata ‘ku. “kejahilan jaman sekarang, bukannya berkurang atau tetap saja seperti dulu, tapi tambah menjadi-jadi”. “coba kau renungkan dengan tenang”. Teman ku tetap diam. Aku pergi.

Aku pernah berkata (nasihat) kepada anak-anak ‘ku. “Kamu-kamu boleh marah kepada bapak semau mu, sepuasnya. Tapi tak bapak izinkan walau satu hurufpun terlontar kepada ibu-mu, apalagi sampai mencairkan airmatanya walau sebutir. Di bawah telapak kakinya surgawi mu”.

Tuhan, sayangi ibu-bapak ‘ku, seperti mereka menyayangi aku waktu kecil
Tuhan, surgakan ibu-bapak ‘ku, seperti KAU menyurgakan hamba-hamba yang KAU mulyakan
Tuhan, dekaplah kami sekeluarga dalam kasih sayang MU
Tuhan, kuatkan cinta bathin ‘ku seperti kekuatan cinta ibu-bapak ‘ku bagai jalan tiada ujung
Amin

A2Karim

About these ads

2 Tanggapan to “CINTA ku, IBU ku”

  1. Subhanallah, saya jadi trenyuh dan terharu, hampir2 menangis ingat ibu saya yg semakin tua, ya Allah berikan kedua orang tuaku cintaMu, peluk mereka dengan KasihMu, amin, salam

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.