Cinta & Cinta

Kasih-Sayang, Cinta-Kasih, Love-Love yang Tergugah

  • Arsip

Berzikir ala Sumarah

Posted by a2karim09 pada September 3, 2009

Banyak cara untuk mengingat Tuhan. Secara Islamik nama Tuhan adalah Allah. Lalu bagaimana cara mengingat Allah yang terbaik. Tidak ada ketentuan khusus. Berzikir berarti mengingat. Zikrullah berarti mengingat Allah. Kemudian dalam berzikir, kalimat/ayat apa yang kita zikirkan. Banyak!. Terserah, yang penting sesuai dengan keberadaan kita.

Disini kami hanya memaparkan pengalaman. Bukan pembelajaran. Sehingga bila terdapat perbedaan pendapat, kami pikir tidak perlu diperpanjang. Berzikir kita masing-masing dengan cara kita masing-masing. Ini pengalaman kami dan bukan pengalaman anda. Pengalaman anda dan juga bukan pengalaman kami. Tukar pendapat (sharing), saling melengkapi itu cara yang terbaik.

Berzikir ala Sumarah sebagian besar yang kami temui mengatakan itu aliran kebathinan. Kami tidak membantah, tapi lebih tepat pelajaran kebathinan. Kenapa? Karena pada salah satu kitab pelajaran Islamik itu ada yang mengandung pengertian kebathinan. Memang tidak disebut gamblang “Mata Hati Melihat Hati”. Apa maknanya dan bagaimana cara lakunya. Di kitab itu tidak dijabarkan, karena katanya “rahasia”. Kami bertanya dalam hati, yang membuat jadi rahasia apakah manusia atau Illahi Rabbi. Kesimpulan dari pengalaman kami adalah manusia. Adakah pelajaran kebathinan dalam Islamik? Dibantah mentah tidak ada. Kami punya pengalaman kecil dan nyata.

Paman kami (beliau adik kandung ibu, berstatus Haji, sekarang sudah meninggal) waktu itu bercerita tentang pengalaman beliau waktu ditimpa suatu permasalahan rumah tangga. Sebelumnya kami pernah diperingkati bahwa hati-hati belajar, jangan sampai mempelajari aliran kebathinan.
Berikut paparan beliau : “Di tengah malam aku berdiam diri. Tidak ada kalimat yang diucap di mulut dan di hati. Dengan aku berdiam diri berbeban permasalahan, Allah akan mengerti dan akan memberikan cara pemecahannya. Aku berserah diri sepenuh dan seikhlasnya kepada Allah Illahi Rabbi. Allah Maha Pemberi Tahu”. Permasalahan terselesaikan.

Kami mengatakan : “Berdiam diri dalam pengertian Islamik itu namanya tafakur (introfeksi), dan biasanya diikuti dengan zikrullah. Zikrullah adalah sarana untuk mengingat Allah. Bisa langsung mengingat Allah tanpa zikir, tidak menjadi masalah bahkan lebih baik. Itu Om (panggilan keseharian paman kami) namanya eling. Mata paman kami langsung melotot. Kata kami “om jangan marah dulu”. Eling berarti ingat. Ingat adalah juga berarti zikir (bahasa Arab, bukan bahasa Indonesia asli). Mengingat Allah berarti berzikir; banyak cara yang bisa dilakukan dan sarana zikir itu sendiri bermacam-macam. Kalimat/ayat yang paling diutamakan adalah La Illaha Ilallah yang berarti “Tiada Tuhan Selain Allah”, yang bermakna “Hanya Allah Yang Ada”. Beliau diam. Akupun sujud dipangkuannya meminta ampun.

Lalu bagaimana dengan kami sendiri. Tak bedanya dengan paman kami. Terkadang diawali dengan zikrullah, terkadang tidak. Jadi berzikir ala Sumarah ada di dalam pelajaran Islamik, hanya beda dalam cara memaparkannya atau penyampaiannya. Berzikir ala Sumarah serupa pelajaran agama, lebih tepat pelajaran spiritual. Disini kekeliruan sebagian orang yang memahaminya. Tapi setelah menyelami, memahami, baru kaget. Tenyata ada di dalam kitab.
Memang telah dinyatakan bahwa pelajaran kebathinan Sumarah adalah aliran kebathinan dan bukan agama, namun dalam/saat mengingat Tuhan tetap menggunakan zikrullah. Sekali lagi zikrullah adalah sarana yang termulya untuk mengingat Allah. Tidak lebih dan tidak kurang.

Salam,
A2Karim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s