Cinta & Cinta

Kasih-Sayang, Cinta-Kasih, Love-Love yang Tergugah

  • Arsip

Ayam dan Rajawali

Posted by a2karim09 pada Oktober 15, 2009

…………, cerita ini untuk hati anda dan bukan untuk otak anda. Biarkan diri anda santai…. Pejamkan mata anda, sentuhlah hati dan tersenyumlah ke hati. ………

Ada cerita kuno tentang sebutir telur burung rajawali yang terjatuh diantara telur-telur ayam. Induk ayam tidak mengetahui hal itu. Induk ayam mengerami telur rajawali sebagaimana dia mengerami telur-telurnya. Hingga pada waktunya telur itupun menetas. Induk ayam mengajari burung rajawali sebagaimana dia mengajari anak-anaknya sendiri. Burung rajawali itu hidup dengan cara hidup seekor ayam. Cara berjalan sebagaimana seekor ayam berjalan, cara makan sebagaimana seekor ayam makan. Diapun merasa sebagai seekor ayam.

Pada suatu hari, dia melihat seeokor burung rajawali dewasa sedang terbang di udara. Demikian gagahnya. Diapun bertanya kepada induk ayam. “Ibu, burung apakah itu? Terbang dengan gagahnya di udara”. Sang induk ayam dengan sigap berkata: “ Cepatlah sembunyi! Itu seekor burung rajawali. Dia raja diantara burung-burung. Kalau dia melihat kita, dia akan menyambar dan memangsa kita dalam sekejap. Cepatlah sembunyi jangan banyak bertanya lagi”. Maka berlarilah si burung rajawali kecil itu ke dalam lubang sambil terus mengintip burung rajawali dewasa itu terbang dengan anggunnya.

Pada suatu waktu, ketika rajawali muda itu sedang bermain di padang rumput, tiba-tiba datanglah seekor burung rajawali dewasa mendekati dia. Betapa terkejutnya rajawali muda itu. Diapun terbirit-birit berlari mencari lubang untuk berlindung. Diapun berteriak: “Toloooooong….. ibuuuu”. Rajawali dewasa terbang kehadapan rajawali muda yang tengah ketakutan. Dia berkata : “Wahai rajawali muda, mengapa engkau begitu ketakutan melihat aku? Aku hanya ingin berteman denganmu”. Si rajawali mudapun menjawab: “Aku seekor ayam dan engkau burung rajawali. Engkau pasti mau memangsa aku. Tolonglah… jangan memangsa aku. Aku masih ingin hidup”. Rajawali dewasapun terheran-heran. Dia berkata: “Engkau adalah burung rajawali. Bukan seeokor ayam. Mengapa engkau merasa menjadi seekor ayam sehingga demikian takutnya melihat aku?”. Rajawali muda itupun berkata lagi: “Aku makan dan berjalan seperti ayam. Mengapa engkau mengatakan aku adalah seekor burung rajawali?”. Rajawali dewasapun mencoba untuk meyakinkan rajawali muda bahwa dia adalah seekor rajawali juga. Maka dia berkata lagi: “Aku akan membawa kamu ke pinggir sungai, agar kamu dapat melihat wajahmu yang sesungguhnya”. Maka diapun membawa si rajawali muda dalam genggamannya menuju sungai. Si rajawali muda terus berteriak-teriak meminta tolong.

Sesampainya di tepi sungai, rajawali dewasa melepaskan genggamannya dan berkata: “Pergilah ke sungai, lihatlah rupamu disana”. Maka dengan masih ketakutan, rajawali muda itupun berjalan ke sungai, melihat bayangan wajahnya yang terpantul di air. Dia pun berteriak ketakutan. “Rajawaliiiii…” lalu berlari menjauh dari sungai. Rajawali dewasa berkata: “Itulah wajah dirimu. Seekor burung rajawali. Engkau kelak akan perkasa seperti aku. Terbang dengan gagahnya di udara”. Rajawali muda masih ketakutan, namun perlahan-lahan dia kembali mendekati sungai. Melihat wajahnya sendiri. Dia menggerak-gerakkan sayapnya, dia tertegun melihat bahwa dirinya adalah seekor burung rajawali. Dan lambat laun menyadari bahwa dia adalah sungguhnya seekor burung rajawali. Akhirnya diapun berlatih terbang bersama rajawali dewasa dan hidup sebagaimana seekor burung rajawali.

Tanpa kehadiran si rajawali dewasa, rajawali muda itu akan hidup dan mati hanya sebagai seekor ayam.
Dibalik cerita di atas, sebenarnya ada makna yang dapat kita diambil. Hidup kita ini mirip dengan kisah si burung rajawali muda. Kalau kita mau menyadari, inti dari diri kita adalah hati kita. Dan inti dari hati kita adalah Hati Nurani.
Sifat dari Hati Nurani adalah mengasihi Tuhan dan sesama. Namun apakah kita sudah hidup seperti itu? Penuh kasih kepada Tuhan dan sesama?
Ataukah kita tidak menyadari hal ini, dan hidup semata-mata untuk memenuhi hasrat dan keinginan-keinginan kita? Pemuasan target-target kita?
Hidup hanya sebagai tubuh fisik dengan otak sebagai pusatnya?
Guru kita bagaikan rajawali dewasa dalam cerita di atas. Beliau menyadarkan kita akan jati diri kita yang sesungguhnya. Mengajarkan kepada kita untuk sadar sebagai Hati dengan Hati Nurani sebagai Nahoda dan hidup untuk mengasihi Tuhan dan sesama.
Pertanyaannya adalah, maukah kita untuk disadarkan…. Bahwa diri kita yang sesungguhnya adalah Hati yang dinahodai Hati Nutani, dan penuh Kasih kepada Tuhan dan sesama?
Maukah kita disadarkan sebagai seekor burung rajawali
Ataukah kita ingin tetap hidup dan mati sebagai seekor ayam saja?

Salam dalam Kasih Tuhan
goen
*) “Renungan”; Warta Padmajaya No.12/EDISI 1/2009, Hal.22-23.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s