Cinta & Cinta

Kasih-Sayang, Cinta-Kasih, Love-Love yang Tergugah

  • Arsip

Sayangi Anak dalam Ucapan

Posted by a2karim09 pada Mei 22, 2010

Orang tua mana yang tidak menyayangi anaknya. Si buah hati belahan jiwa. Sayang anak tidak berarti memanjakannya. Memanjakan anak memang perlu, namun diupayakan si anak tidak mengetahuinya (trik orang tua). Oranag tua yang bijak sangat berhati-hati. Namun memanjakan anak mengandung kecendrungan bersifat negatif. Kenegatifan yang fatal menyebabkan si anak melawan (langsung atau tak langsung) terhadap orang tuanya. Kemarahan sebagai orang tua bangkit dan si anak yang dipersalahkan. Kefatalan yang parah, terkadang orang tua berani bersumpah atas nama Tuhan untuk menutupi segala bentuk kelemahan dan kesalahannya.

Uraian singkat di atas terinspirasi ulang pada artikel “Tak Boleh Mencaci Anak” (Pelatihan : PKK Kabupaten Hulu Sungai Selatan dari Pokja II Mengelar Pelatihan Bina Keluarga Balita; Radar Banjarmasin, Jum’at 21 Mei 2010, Hal.12). Narasumber pada pelatihan tersebut dr. Rustina Idawati (DisKes Kabupaten) dengan tema “Tumbuh Kembang Anak” dan Adrian Noor Spi dengan tema “Bina Keluarga Belita”.

Tema kedua di atas (Bina Keluarga Belita) yang terkait dengan artikel kami sebelumnya berjudul “Durhakah Anak Bila Melawan”. Dari isi pelatihan yang paling mendasar seperti yang dikemukakan oleh dr. Rustina bahwa dalam kehidupan sehari-hari, anak tidak boleh direndahkan atau dicaci. Apa yang dikemukakan oleh dr. Rustina tentu bukan tidak beralasan. Paling tidak beliau pernah memperoleh informasi atau informasi lain yang intinya terkait dengan mencaci anak.


Saat si anak masih balita, mungkin saja belum tertanam cacian tersebut dalam hatinya. Setelah si anak melewati masa balita dan si orang tua menjadi terbiasa mengumpat yang tak terpuji, cacian mengores secara perlahan di hati si anak. Si anak makin dewasa dan kebiasaan orang tua tambah menjadi, sehingga dapat mengakibatkan perlawanan bagi si anak. Nah kalau sudah begini, salahkah si anak? Atau si orang tua tetap dibenarkan?.

Saya punya pengalaman nyata, akibat makian atau ucapan yang tak terpunji.
Suatu sore saya lagi jalan-jalan pada suatu kampung. Terlihat seorang lelaki (umur sekitar 6 tahun lebih) sambil berlari sambil berucap “mama bungul” (bahasa Banjar : bungul = bodoh) dan tak lama kemudian muncul si ibu dengan ucapan “dasar anak bangsat, kada tahu mama kada baduit”.
Di sore yang lain, saya mendengar si nenek ngomel bahwa cucunya mengucap beliau “anjing”. Tak jauh saya lewat bertemu dengan si cucu tersebut (umur sekitar 18 tahun) yang masih mengucap “anjing”. Saya tersentak!. Tanpa sadar saya menegur si cucu “kada bulih kaya itu lawan nini” (tidak boleh begitu dengan nenek). Si cucu menoleh ke arah saya dengan mata melotot dan berucap “nini gin menyambat ulun anjing” (nenek juga menyebut saya anjing; ulun = saya, kata halus bahasa Banjar). Saya terdiam.

Contoh lain yang diilustrasikan dalam beberapa sinetron di Televisi kita, ada orang tua yang berani bersumpah atas nama Tuhan untuk menutupi segala bentuk kebohongannya. Memang sinetron suatu cerita yang diperankan sesuai dengan pemikiran/imajinasi sutradara. Namun dari sekian banyak kehidupan, kemungkinan tersebut bisa saja terjadi.

Dari uraian contoh di atas, siapa yang harus dipersalahkan? Apakah si anak yang berucap ucapan tak terpuji kepada orang yang lebih tua?. Perlu kita ingat bahwa pendidik utama dalam suatu rumah tangga adalah kedua orang tuanya, disamping keluarga yang lebih tua dari si anak (misal kakaknya, nenek atau kakeknya).

Ingat, anak adalah titipan Illahi Rabbi.

A2Karim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s